Kabut Asap Pekat Kembali Selimuti Berau, Sri Juniarsih Cermati Dugaan Asap Kirimam

Berita

HALOBERAU – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Berau dalam beberapa hari terakhir. Kemunculannya yang kerap terjadi pada sore hari mulai mengganggu jarak pandang masyarakat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menduga kondisi tersebut dipengaruhi asap kiriman dari daerah lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dugaan itu mencuat setelah sebaran asap terpantau semakin meluas, meski aktivitas penanganan karhutla di wilayah Berau disebut tidak berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama karena kabut asap kembali mengganggu aktivitas masyarakat.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan pihaknya telah mencermati perkembangan cuaca dan kemunculan kabut asap yang terjadi belakangan ini. Komunikasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga dilakukan untuk memastikan kondisi karhutla di wilayah Berau.

“Iya, kita mencermati kondisi cuaca beberapa hari belakangan ini. Setiap sore kerap muncul kabut asap kembali yang cukup mengganggu,” ujarnya.

Sri menjelaskan, berdasarkan komunikasi yang dilakukan dengan OPD terkait, tidak terdapat aktivitas penanganan karhutla di Berau dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi tersebut justru beriringan dengan meningkatnya gangguan kabut asap di sejumlah wilayah.

“Saya sudah melakukan komunikasi dengan OPD kami, bahwa belakangan ini penanganan karhutla tidak ada,” katanya.

Berdasarkan pemantauan yang disampaikan pemerintah daerah, sebaran asap mulai terlihat pada Minggu (4/10/2026), sekitar pukul 14.00 Wita. Kemunculan awal terutama terpantau di wilayah selatan Berau, sebelum meluas hingga Senin (5/10/2026).

Pada periode tersebut, kabut asap disebut mulai menyelimuti wilayah Berau secara lebih luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui berkurangnya kenyamanan beraktivitas, tetapi juga penurunan jarak pandang di sejumlah lokasi.

Jarak pandang bahkan dilaporkan turun hingga sekitar 1.200 meter. Kondisi ini perlu menjadi perhatian, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun pengguna jalan yang membutuhkan jarak pandang memadai.

Kabut asap yang muncul berulang kali pada sore hari juga menjadi catatan penting dalam pemantauan kondisi lingkungan di Berau. Meski demikian, penyebab pasti dan sumber sebaran asap tetap memerlukan verifikasi melalui data pemantauan meteorologi serta pemeriksaan lapangan.

Sri menyebutkan, laporan Stasiun Meteorologi (Stamet) Kalimarau turut menunjukkan adanya titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan data tersebut, titik panas terpantau cukup banyak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser.

Temuan itu menjadi salah satu dasar munculnya dugaan bahwa kabut asap yang menyelimuti Berau merupakan asap kiriman dari wilayah lain yang mengalami karhutla.

“Ini kemungkinan besar merupakan asap kiriman dari wilayah lain yang terjadi karhutla,” jelasnya.

Meski demikian, dugaan asap kiriman perlu dipastikan melalui analisis arah angin, pergerakan massa udara, serta data sebaran titik panas dan kondisi atmosfer. Keberadaan titik panas di daerah lain tidak serta-merta membuktikan bahwa asap yang mencapai Berau berasal dari wilayah tersebut.

Kembalinya kabut asap menjadi pengingat pentingnya pemantauan karhutla dan kualitas udara secara berkelanjutan, terutama ketika kondisi cuaca mendukung meluasnya asap dari wilayah lain.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan perkembangan titik panas di Berau, memantau kualitas udara, serta menyampaikan informasi yang terverifikasi kepada masyarakat. Langkah antisipasi juga diperlukan apabila kabut asap kembali menyebabkan penurunan jarak pandang atau berdampak terhadap kesehatan.

“Kami mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang dan membatasi paparan asap apabila kondisi udara memburuk, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan,” pungkasnya. (Adv/ed*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *