HALOBERAU – Kebijakan pemberlakuan label gizi pada minuman berpemanis mulai mendapat perhatian di daerah. DPRD Berau menyatakan dukungannya terhadap aturan tersebut sebagai langkah penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi yang lebih sehat.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menyampaikan bahwa kebijakan yang mulai diterapkan sejak 14 April 2026 itu diharapkan mampu menekan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes dan obesitas, yang kian meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat.
“Ini merupakan langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi yang lebih sehat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, aturan tersebut mewajibkan pelaku usaha minuman siap saji berskala besar untuk mencantumkan informasi nilai gizi pada setiap produk yang dijual. Jenis minuman yang dimaksud meliputi berbagai minuman populer seperti boba, kopi susu, teh tarik, hingga jus yang banyak digemari masyarakat.
Dengan adanya label gizi, masyarakat diharapkan dapat mengetahui kandungan gula serta nilai gizi dalam minuman yang dikonsumsi, sehingga dapat mengontrol asupan harian dengan lebih bijak.
Menurut Sumadi, tren minuman kekinian yang terus berkembang, termasuk di Kabupaten Berau, perlu diimbangi dengan pemahaman tentang dampak kesehatan jangka panjang akibat konsumsi gula berlebihan.
“Yang penting, jangan dikonsumsi secara berlebihan,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun saat ini kebijakan tersebut belum menyasar pelaku UMKM, kesadaran individu tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga mulai mengubah kebiasaan konsumsi secara mandiri.
Di sisi lain, Sumadi juga mendorong Pemerintah Kabupaten Berau untuk segera melakukan sosialisasi secara masif agar aturan tersebut dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha.
“Sosialisasi harus dimaksimalkan agar tidak menimbulkan kebingungan,” katanya.
Dengan edukasi yang tepat, ia berharap kebijakan pelabelan gizi pada minuman berpemanis dapat berjalan efektif di daerah, sekaligus memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
“Ini harus dipahami bersama demi kesehatan kita semua,” pungkasnya. (Adv/ed*)
