HALOBERAU – Anggaran promosi pariwisata melalui media elektronik yang dialokasikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menjadi sorotan publik. Nilainya yang mencapai Rp10,7 miliar memunculkan beragam tanggapan, salah satunya dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Berau.
Ketua HPI Berau, Yudi Rizal, menilai metode promosi melalui videotron dan papan reklame digital di sejumlah bandara maupun kota besar belum tentu menjadi cara paling efektif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Berau.
“Promosi wisata melalui videotron yang dipasang di bandara Samarinda dan Balikpapan saya rasa kurang efektif jika tujuan utamanya menarik wisatawan datang ke Berau, apalagi dengan nilai anggaran yang tidak sedikit,” ujar Yudi, Kamis (11/6).
Menurutnya, masih banyak alternatif promosi yang lebih tepat sasaran dan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kunjungan wisatawan tanpa harus menghabiskan anggaran miliaran rupiah.
Salah satu strategi yang dinilai lebih efektif adalah menggelar berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan masyarakat dan generasi muda lokal.
“Lewat event justru lebih efektif, misalnya event lari, festival budaya, atau kegiatan kreatif lainnya yang bisa menarik perhatian wisatawan sekaligus melibatkan masyarakat,” katanya.
Selain itu, Yudi juga menilai pemanfaatan media sosial dan kolaborasi dengan media massa dapat menjadi sarana promosi yang lebih optimal dibandingkan pemasangan iklan di videotron dengan biaya besar.
“Menurut saya, menggandeng pegiat media sosial dan media massa jauh lebih efektif dibandingkan memasang iklan di baliho atau videotron,” tambahnya.
Yudi juga mengusulkan agar promosi wisata Berau lebih banyak melibatkan influencer nasional yang memiliki segmen pengikut sesuai dengan karakter wisata unggulan daerah, khususnya wisata bahari.
“Untuk promosi bisa bekerja sama dengan influencer nasional seperti influencer diving, freedive maupun blogger yang mempunyai follower puluhan ribu. Saya kira mereka juga tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan biaya promosi yang dikeluarkan,” ujarnya.
Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah adanya evaluasi berbasis data untuk mengukur efektivitas promosi yang telah dilakukan. Ia menilai pemerintah daerah perlu melakukan survei kepada wisatawan guna mengetahui sumber informasi yang mendorong mereka berkunjung ke Berau.
“Yang terpenting menurut saya adalah perlu adanya survei agar kita tahu pasti mereka datang mendapatkan informasi dari mana, apakah mereka mau kembali lagi berkunjung. Sehingga kita bisa melakukan evaluasi,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan survei tersebut dapat melibatkan berbagai pihak yang bersentuhan langsung dengan wisatawan, seperti akademisi, pemandu wisata, pengelola resort hingga pemilik homestay.
“Untuk melakukan survei bisa melibatkan akademisi, guide-guide, resort maupun homestay,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dikutip dari media online DetikBerau, anggaran promosi pariwisata yang bersumber dari APBD tersebut mencapai Rp10,7 miliar. Anggaran itu direncanakan untuk penayangan promosi pada sejumlah videotron bandara dan mega billboard di beberapa kota besar seperti Balikpapan, Makassar, Surabaya, Jakarta hingga Bali.
Selain itu, terdapat pula alokasi sekitar Rp500 juta yang diperuntukkan bagi jasa pembuatan video promosi pariwisata daerah.
Data tersebut tercantum dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) INAPROC (Indonesia Procurement). Dalam dokumen tersebut terdapat tujuh paket kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan promosi pariwisata.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, sebelumnya menjelaskan bahwa nilai anggaran yang tercantum merupakan kalkulasi berdasarkan jangka waktu penayangan promosi.
“Itu berjangka waktu. Apakah nanti dilanjutkan atau tidak, tentu akan dievaluasi. Kalau saya anggap terlalu besar, maka bisa kita alihkan ke cara yang lain,” ujarnya.
Yudha juga menegaskan bahwa program promosi tersebut telah berjalan sejak sebelum dirinya menjabat sebagai Kepala Disbudpar Berau.
Terkait masukan masyarakat yang mengusulkan agar promosi lebih banyak melibatkan pemandu wisata, komunitas pariwisata maupun pelaku wisata lokal, Yudha menyebut pihaknya masih terus mencoba berbagai strategi promosi.
“Strategi promosi itu macam-macam caranya. Kebetulan kemarin dianggarkan khusus untuk penayangan secara elektronik, baik di bandara maupun videotron,” katanya.
Ia memastikan seluruh program yang telah berjalan akan dievaluasi untuk mengukur efektivitas dan manfaatnya terhadap pengembangan sektor pariwisata Berau. Pihaknya juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan terkait strategi promosi yang dinilai lebih tepat.
“Silakan disampaikan kepada kami. Pasti akan kami evaluasi dan sesuaikan dengan masukan masyarakat. Mana yang terbaik, tentu akan kami pilih,” tandasnya. (*)
