HALOBERAU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Senin (5/10/2026).
Asap yang kembali menebal tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap transportasi udara. Sebanyak 12 jadwal penerbangan di Bandar Udara Kalimarau, baik kedatangan maupun keberangkatan, ikut terdampak.
Kepala Otoritas Bandar Udara Kalimarau, Patah Atabri, mengatakan kondisi jarak pandang menjadi salah satu pertimbangan dalam operasional penerbangan.
“Jarak pandang saat ini di Kalimarau 3000 meter. Untuk jadwal penerbangan masih menyesuaikan kondisi jarak pandang,” kata Patah saat dikonfirmasi.
Pihak bandara masih memantau perkembangan kondisi di lapangan. Penerbangan akan kembali menyesuaikan setelah jarak pandang dinilai memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Gangguan penerbangan akibat kabut asap juga terjadi sehari sebelumnya. Minggu (4/10/2026), sejumlah penumpang Super Air Jet rute Balikpapan-Berau mengeluhkan penundaan penerbangan di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan.
Para penumpang mengaku harus menunggu tanpa kepastian mengenai waktu keberangkatan. Mereka juga mengaku tidak mendapatkan kompensasi dari pihak maskapai.
Salah seorang penumpang mengatakan, selama menunggu penerbangan berikutnya, penumpang hanya difasilitasi tempat untuk beristirahat di masjid bandara.
Menurut keterangan penumpang, pihak maskapai menyampaikan tidak adanya kompensasi karena penerbangan terganggu akibat kabut asap.
Kondisi ini menambah panjang dampak karhutla di Berau. Selain mengancam lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat, kabut asap kini kembali memengaruhi mobilitas warga melalui jalur udara.
Hingga Senin pagi, aktivitas penerbangan di Bandara Kalimarau masih menyesuaikan kondisi jarak pandang. Masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara diimbau memantau perkembangan jadwal penerbangan sebelum menuju bandara. (*)
