HALOBERAU – Sektor kesehatan di Kabupaten Berau menjadi sorotan tajam setelah manajemen RSUD Abdul Rivai dikritik dalam forum resmi. Besarnya anggaran yang telah digelontorkan dinilai belum sebanding dengan kualitas layanan yang dirasakan masyarakat.
Anggota Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris, menyampaikan kritik keras terhadap perencanaan dan pengelolaan keuangan di sektor kesehatan. Ia menilai, rumah sakit milik pemerintah belum mampu bersaing dengan fasilitas kesehatan swasta, sehingga memicu pergeseran pilihan masyarakat.
Menurutnya, ketimpangan antara nilai investasi dan hasil pelayanan menjadi persoalan utama. Ia menyoroti pembangunan rumah sakit yang menyerap anggaran besar, namun belum diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan.
Salah satu indikator yang disorot adalah menurunnya pendapatan rumah sakit daerah dalam beberapa waktu terakhir. Waris menilai kondisi ini bukan karena masyarakat semakin sehat, melainkan karena banyak pasien memilih berobat ke rumah sakit swasta.
Ia bahkan membandingkan dengan RS Tirta yang dinilai lebih efisien dalam pembangunan maupun operasional. Menurutnya, dengan anggaran yang lebih kecil, fasilitas swasta justru mampu memberikan layanan yang lebih optimal.
“Kenapa pendapatan kita berkurang? Jangan-jangan banyak yang lari ke (RS) Tirta. Bayangkan, mereka bangun fisik cuma Rp38 miliar sampai Rp48 miliar sudah hampir jadi, sedangkan kita Rp100 miliar,” ujarnya.
Tak hanya soal anggaran, Waris juga menyinggung desain dan fungsi bangunan rumah sakit pemerintah yang dinilai belum maksimal. Ia menyebut, fasilitas swasta mungkin terlihat sederhana, namun mampu berjalan lebih efektif dalam memberikan layanan.
“Bangunan itu mungkin sederhana, tapi fasilitasnya berjalan. Kalau kita tidak akui ada masalah di layanan kita, kita tidak akan pernah bisa memperbaiki kondisi kesehatan di Berau,” tegasnya.
Ia menilai, tanpa keberanian untuk mengakui kekurangan, perbaikan layanan kesehatan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendesak Pemerintah Kabupaten Berau bersama manajemen RSUD untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan.
“Kita jangan sampai bangun rumah sakit baru, tapi yang lama tidak ada perbaikan. Akhirnya yang diuntungkan justru swasta. Kita punya komitmen moral untuk memperbaiki layanan rumah sakit kita sendiri,” pungkasnya. (Adv/ed*)
