Alasan Kesehatan, Bupati Berau Instruksikan Siswa Belajar dari Rumah

Berita

HALOBERAU – Pemerintah Kabupaten Berau mengambil langkah antisipasi terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menyebabkan kualitas udara menurun dan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah.

Melalui Surat Edaran Bupati Berau Nomor 610 Tahun 2026 tentang Kesiapsiagaan terhadap Siaga Darurat Karhutla di Kabupaten Berau Tahun 2026, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menginstruksikan seluruh siswa dan siswi untuk Belajar Dari Rumah (BDR) terhitung pada 24-26 Agustus 2026.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai langkah perlindungan terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, menyusul meningkatnya titik panas dan kejadian Karhutla di sejumlah wilayah Kabupaten Berau.

“Kebijakan belajar dari rumah ini merupakan langkah antisipasi untuk melindungi anak-anak dari dampak kabut asap Karhutla. Kita tidak ingin kondisi udara yang kurang baik justru mengganggu kesehatan mereka,” ujarnya.

Dalam surat edaran tersebut disebutkan, berdasarkan pembaruan sebaran titik panas atau hotspot dari satelit SIPONGI pada 19 Agustus 2026, tercatat 276 titik panas di Kabupaten Berau.

Kecamatan Pulau Derawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 93 titik, disusul Kecamatan Segah sebanyak 64 titik, Gunung Tabur 38 titik, Sambaliung 28 titik dan Teluk Bayur 21 titik.

Selain tingginya jumlah hotspot, kejadian Karhutla sejak awal Agustus juga telah mencapai 152 kejadian. Kondisi tersebut menyebabkan kabut asap yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan kesehatan.

Sri Juniarsih mengatakan, pemerintah juga telah mempertimbangkan hasil pemeriksaan kualitas udara di sejumlah lokasi yang terdampak Karhutla.

“Kita melihat kondisi di lapangan dan juga hasil pemeriksaan kualitas udara. Parameter PM2,5 dan PM10 di beberapa lokasi sudah berada di atas ambang batas. Karena itu, keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi pertimbangan utama pemerintah daerah,” katanya.

Paparan asap Karhutla dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki sensitivitas atau alergi terhadap asap.

Sejumlah gangguan kesehatan yang dapat ditimbulkan antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bronkitis, iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan jantung.

Selain menerapkan pembelajaran dari rumah, Bupati juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan selama kondisi udara terdampak asap Karhutla.

“Kami mengimbau masyarakat, terutama orang tua, untuk memastikan anak-anak tetap berada di lingkungan yang aman. Jika harus keluar rumah, gunakan masker, perbanyak minum air putih dan kurangi aktivitas di luar ruangan,” jelasnya.

Bupati juga meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Menurutnya, penanganan dampak Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi membutuhkan peran seluruh masyarakat.

“Kita harus bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah munculnya sumber api baru. Jangan melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, karena dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat,” tegasnya.

Dalam surat edaran tersebut, pemerintah juga meminta seluruh camat, lurah, kepala kampung hingga RT untuk ikut menyosialisasikan langkah pencegahan dan penanganan dampak Karhutla kepada masyarakat.

Sementara untuk pelaksanaan Belajar Dari Rumah, kebijakan berlaku selama tiga hari, yakni 24 hingga 26 Agustus 2026. Mekanisme pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) selama penerapan BDR akan dikoordinasikan bersama Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.

Bupati berharap kebijakan tersebut dapat dipahami seluruh pihak sebagai langkah sementara untuk menjaga kesehatan peserta didik di tengah kondisi udara yang kurang baik.

“Yang paling utama saat ini adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak kita. Mari kita ikuti kebijakan ini dengan penuh tanggung jawab, tetap waspada, dan bersama-sama mencegah Karhutla agar kondisi Kabupaten Berau segera kembali aman dan kualitas udaranya membaik,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *