HALOBERAU, KUTIM – Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Disnakertrans) Kutai Timur (Kutim), Roma Malau, menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan masyarakat harus diukur dari dampaknya terhadap ekonomi warga, bukan dari banyaknya kegiatan yang dijalankan.
Pendekatan berbasis hasil ini menjadi prioritas utama Disnakertrans dalam mengelola program transmigrasi dan setiap kegiatan yang dilakukan harus mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga transmigran.
“Kita tidak mau hanya berhenti di laporan kegiatan. Yang kita cari adalah hasil konkret di lapangan,” tegasnya, Senin (10/11/2025).
Roma menjelaskan, saat ini banyak warga transmigrasi yang sudah mulai mandiri dan mampu mengembangkan usaha lokal.
Produk-produk seperti olahan pertanian, perkebunan, hingga kuliner khas Kutim kini mulai dikenal di pasar yang lebih luas.
“Kalau ekonomi mereka mulai tumbuh dan produk lokal diterima pasar, itu bukti program berhasil,” ungkapnya.
Disnakertrans Kutim juga memperkuat kerja sama lintas sektor, termasuk dengan dunia usaha dan lembaga pendamping ekspor, untuk membuka akses yang lebih besar bagi pelaku usaha kecil di kawasan transmigrasi.
Pemerintah memastikan setiap program memiliki tindak lanjut dan target keberlanjutan agar dampaknya tidak hanya jangka pendek, melainkan terus berkembang di masa depan.
Roma optimistis, dengan komitmen bersama, kawasan transmigrasi di Kutim dapat menjadi contoh sukses pemberdayaan ekonomi rakyat yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.(ADV)
