HALOBERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mendorong pemanfaatan tanaman kemiri sunan (Reutealis trisperma) sebagai solusi rehabilitasi lahan kritis pascatambang yang tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Bupati Berau, Gamalis, bersama para pelaku usaha pertambangan dan Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, di Ruang Rapat Sangalaki, Selasa (21/7/2026).
Dalam pertemuan itu, kemiri sunan diperkenalkan sebagai tanaman yang mampu tumbuh di lahan marginal maupun lahan terdegradasi akibat aktivitas pertambangan. Selain membantu proses reklamasi, tanaman ini menghasilkan minyak nabati dengan rendemen sekitar 52 persen yang dapat diolah menjadi biodiesel.
Secara ekologis, kemiri sunan dinilai memiliki sejumlah keunggulan. Sistem akar tunggangnya mampu memperkuat struktur tanah sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor. Tajuk yang rindang juga membantu menurunkan suhu permukaan, menyerap karbon dioksida (CO₂), serta meningkatkan kandungan bahan organik tanah melalui guguran daun yang mempercepat pemulihan kesuburan lahan.
Tak hanya ramah lingkungan, kemiri sunan juga menawarkan manfaat ekonomi. Tanaman ini mulai berbuah pada usia empat hingga lima tahun dengan masa produktif yang dapat mencapai 50 hingga 100 tahun.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, sektor pertambangan memang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah, namun di sisi lain juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan lahan bekas tambang kembali produktif.
“Rehabilitasi pascatambang bukan hanya kewajiban, tetapi harus menjadi investasi jangka panjang. Rehabilitasi lahan bukan sekadar penghijauan, melainkan bagaimana menciptakan kawasan produktif yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap perusahaan-perusahaan tambang di Berau dapat menjadikan pengembangan kemiri sunan sebagai bagian dari komitmen penerapan praktik pertambangan yang berkelanjutan. Pemkab Berau, kata dia, siap membangun sinergi dengan pemerintah pusat, akademisi, maupun dunia usaha agar inovasi tersebut dapat direalisasikan.
“Keberhasilan suatu daerah bukan hanya diukur dari sumber daya alam yang berhasil diambil, tetapi juga dari bagaimana kita mampu mengembalikan fungsi alam,” tegasnya.
Gamalis juga menyampaikan apresiasi kepada Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, yang memperkenalkan konsep pengembangan kemiri sunan di lahan bekas tambang. Menurutnya, gagasan tersebut dapat menjadi langkah awal memperkuat implementasi ekonomi hijau di Kabupaten Berau dengan melibatkan perusahaan-perusahaan pertambangan.
“Mari kita teguhkan komitmen bersama, bukan hanya membangun ekonomi yang produktif, tetapi juga ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya.
Sementara itu, Nico Barito menjelaskan kemiri sunan merupakan tanaman perkebunan yang sangat adaptif dikembangkan di lahan bekas tambang batu bara. Pihaknya bahkan telah memiliki model pengelolaan reklamasi yang memanfaatkan kemiri sunan sebagai komoditas penghasil biodiesel.
“Kemiri sunan merupakan tanaman perkebunan penghasil biodiesel dan kami sudah memiliki model pengelolaan lahan bekas tambang batu bara untuk pengembangan komoditas ini,” katanya.
Ia optimistis pengembangan kemiri sunan di Berau dapat mendukung ketahanan energi berbasis energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil seperti minyak dan gas bumi yang ketersediaannya terus menurun. (Adv/ed*)
