HALOBERAU, KUTIM – Sejumlah wilayah terpencil di Kutai Timur kini mulai terjangkau layanan Cap Jempol setelah mobilitas tim pendidikan ditingkatkan.
Program jemput bola ini fokus memastikan anak-anak yang sebelumnya putus sekolah atau belum pernah tersentuh pendidikan dapat kembali belajar.
Keberhasilan program sangat tergantung pada kemampuan petugas dalam mendata dan melacak anak-anak yang belum sekolah.
“Seluruh kegiatan Cap Jempol digratiskan oleh pemerintah daerah, mulai dari pendampingan, modul pembelajaran, hingga proses asesmen,” ujar Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, Minggu (23/11/1015).
Cap Jempol juga memfasilitasi asesmen minat dan kemampuan anak sebelum diarahkan ke program kesetaraan atau reintegrasi ke sekolah formal.
Pemerintah desa dan ketua RT menjadi mitra penting dalam menjangkau peserta didik di tingkat lokal.
“Cap Jempol harus hadir sebagai layanan yang aktif menjemput warga belajar. Tidak ada alasan anak tidak kembali bersekolah,” tegasnya.
Pemkab Kutim menargetkan melalui penguatan Cap Jempol, angka putus sekolah dapat turun signifikan dalam satu tahun ke depan.
Dengan pendekatan jemput bola, setiap anak Kutim diharapkan memperoleh akses pendidikan yang merata, sekaligus membangun fondasi belajar yang lebih kuat.(ADV)
