HALOBERAU – Upaya pengembangan budidaya rumput laut di wilayah pesisir Berau kembali mendapat sorotan. Anggota DPRD Berau, Saga, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau agar tidak terpaku pada kawasan Pulau Derawan dan Maratua, melainkan mulai melirik potensi Kampung Kasai sebagai lokasi pengembangan baru.
Saga menilai, budidaya rumput laut di Derawan dan Maratua sulit berkembang karena kerap terganggu hama penyu dan ikan buntal. Kedua satwa ini disebut memiliki kecenderungan mengonsumsi rumput laut sehingga berdampak langsung pada hasil panen masyarakat.
“Penyu itu sulit dihindari, begitu juga ikan buntal. Ketika ada rumput laut, penyu pasti datang dalam jumlah banyak,” ujarnya.
Lebih lanjut, politikus perempuan tersebut menjelaskan bahwa rumput laut idealnya tumbuh di perairan payau dan di area yang tidak dihuni hama penyerang. Ia menyebut telah mencoba mencari cara untuk mengatasi gangguan penyu, namun hingga kini belum ada solusi efektif.
“Kendala ini membuat masyarakat pesisir kesulitan memaksimalkan budidaya, padahal minat terhadap rumput laut sangat tinggi,” terangnya.
Saga mencontohkan keberhasilan pengembangan rumput laut di wilayah Nunukan yang menurutnya didukung oleh kondisi perairan payau serta minimnya kehadiran hama laut.
“Saya pelajari, kenapa Nunukan berhasil? Karena budidayanya dilakukan di air payau. Mungkin konsep ini bisa dicoba di daerah seperti Kasai yang tidak ada penyu,” katanya.
Selain soal gangguan hama, Saga juga menyoroti pentingnya menjaga kelestarian penyu di kawasan konservasi Derawan dan Maratua. Karena itu, menurutnya, pemilihan lokasi alternatif menjadi langkah strategis agar pengembangan rumput laut tidak berbenturan dengan upaya konservasi.
“Pengembangan rumput laut di Derawan dan Maratua jelas beririsan dengan pelestarian penyu. Kalau ingin mengembangkan secara maksimal, kita perlu mengalihkan fokus ke wilayah lain,” pungkasnya. (Adv/ed*)
