HALOBERAU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Di tengah penanganan yang terus dilakukan, petugas kini menghadapi kendala baru karena sejumlah titik api berada jauh di dalam kawasan hutan dan sulit dijangkau melalui jalur darat.
Tim satgas karhutla masih disiagakan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah wilayah yang tersebar di 12 kecamatan. Titik api yang bermunculan hampir setiap hari membuat personel harus terus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Namun, tidak seluruh titik kebakaran dapat dengan mudah dijangkau.
Sebagian lokasi berada jauh dari permukiman dan akses jalan. Kondisi medan membuat mobilisasi personel maupun peralatan pemadam menjadi lebih sulit. Padahal, api di kawasan hutan tetap harus segera ditangani agar tidak meluas.
Pemerintah Kabupaten Berau melihat kondisi tersebut membutuhkan dukungan penanganan dengan metode berbeda.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan penanganan karhutla selama ini telah dilakukan dengan mengerahkan personel dan peralatan yang tersedia. Namun, keterbatasan akses menuju sejumlah titik api menjadi salah satu kendala yang dihadapi petugas di lapangan.
Karena itu, Pemkab Berau mendorong pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberikan bantuan pemadaman dari udara atau water bombing.
Menurut Gamalis, metode tersebut dibutuhkan untuk menjangkau titik-titik karhutla yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat.
“Kalau titik apinya jauh di dalam hutan dan sulit dijangkau, kita berharap ada bantuan water bombing. Ini untuk mempercepat penanganan,” kata Gamalis.
Pemkab Berau berharap dukungan tersebut dapat segera diberikan, mengingat karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah.
Upaya pemadaman di darat tetap dilakukan oleh tim gabungan. Namun, untuk titik api yang berada di kawasan hutan dengan akses terbatas, dukungan pemadaman dari udara dinilai dapat membantu mempercepat proses penanganan.
Pemerintah daerah juga terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan lahan yang masih rawan terbakar.
“Kami berharap pemerintah pusat dan provinsi bisa melihat kondisi di Berau. Kalau memang ada titik yang tidak bisa kita jangkau dari darat, tentu kita membutuhkan dukungan dari udara. Jangan sampai api semakin meluas dan penanganannya menjadi lebih sulit,” tutup Gamalis.
Karhutla di Berau belum sepenuhnya berakhir. Di tengah keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran, dukungan tambahan menjadi salah satu kebutuhan untuk memastikan api dapat segera dikendalikan. (Adv/ed*)
