Baturunan Parau, Tradisi Leluhur yang Merawat Kebersamaan

Berita

HALOBERAU – Suasana depan Museum Batiwakkal, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, kembali diwarnai tradisi Baturunan Parau, Sabtu (19/9/2026).

Tradisi adat masyarakat Banua ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb.

Baturunan Parau bukan sekadar prosesi menurunkan perahu. Di dalamnya terdapat doa, simbol kehidupan, serta semangat gotong royong yang diwariskan leluhur masyarakat Gunung Tabur.

Sebelum perahu diturunkan, prosesi diawali dengan permohonan izin dan ritual tepung tawar. Berbagai perlengkapan seperti mayang pinang, kain kuning, beras kuning, serta daun sarimbangun dan linjuang digunakan dalam prosesi tersebut.

Tokoh Masyarakat Gunung Tabur, Aji Suhaidi, menjelaskan setiap perlengkapan memiliki makna. Mayang pinang yang diasapi, misalnya, dimaknai seperti bayi dalam kandungan yang membutuhkan kasih sayang dan kehangatan. Saat dibuka, mayang menjadi simbol lahirnya kehidupan dan semangat baru.

“Mengikatkan mayang pinang pada perahu dengan kain kuning bermakna memberikan semangat yang baru pada perahu itu dan manusia sebagai pemiliknya,” kata Suhaidi.

Sementara beras kuning dimaknai sebagai pengurru sumangat atau pemanggil ruh agar menyatu sempurna dengan badan.

Menurut Suhaidi, Baturunan merupakan warisan Kesultanan Gunung Tabur yang tidak hanya dilakukan saat menurunkan perahu. Nilainya juga hidup dalam berbagai momentum masyarakat, seperti mendirikan rumah, kelahiran hingga pernikahan.

“Baturunan berarti bersama-sama meringankan beban saudara yang membutuhkan, baik bantuan tenaga maupun materi,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai pelestarian tradisi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat sebagai pemilik budaya.

“Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita dan generasi berikutnya kehilangan pengetahuan dan keterkaitan terhadap budaya daerah kita sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan Baturunan Parau memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.

“Ini tentu menjadi bagian dari satu objek wisata yang harus kita jual. Bagaimanapun yang namanya budaya, warisan budaya adalah salah satu varian wisata yang ada di Kabupaten Berau ini, selain bahari dan hulu,” ungkapnya.

Gamalis menegaskan pemerintah daerah akan terus mendukung pelestarian budaya lokal agar warisan tersebut tetap hidup dan dapat dikenal generasi berikutnya.

“Kita semua berharap warisan kekayaan budaya ini dapat terus terjaga dan bermanfaat untuk generasi-generasi selanjutnya,” pungkasnya. (Adv/ed*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *